Kerang Tanjung Balai Asahan: Kuliner Khas Kota Kerang yang Tembus Pasar Dunia
Trip Asahan – Tanjung Balai Asahan bukan hanya dikenal sebagai kota pelabuhan di Sumatera Utara. Kota yang berada di tepi Sungai Asahan ini juga memiliki kekayaan kuliner laut yang menjadi ciri khas daerah, salah satunya adalah kerang.
Bagi masyarakat setempat, kerang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mayoritas penduduk Tanjung Balai dahulu berprofesi sebagai nelayan, sehingga hasil laut menjadi salah satu sumber penghidupan sekaligus bahan utama berbagai makanan khas.
Tak heran jika Tanjung Balai dikenal sebagai Kota Kerang. Dalam istilah Batak, kerang juga kerap disebut “korang robus”, yang berkaitan dengan kondisi perairan berlumpur di kawasan tersebut.
Kota Kerang dengan Tradisi yang Terus Hidup
Keberadaan kerang begitu melekat dengan identitas Tanjung Balai. Pemerintah daerah bahkan membangun alun-alun berbentuk kerang di Lapangan Pasir sebagai salah satu ikon kota.
Di kawasan tersebut juga terdapat tradisi Pesta Kerang yang digelar secara turun-temurun. Acara ini menjadi salah satu bentuk perayaan sekaligus upaya mempertahankan identitas kuliner khas daerah.
Bagi wisatawan yang datang ke Tanjung Balai maupun Medan, mencicipi olahan kerang menjadi pengalaman kuliner yang sayang dilewatkan. Kerang dapat ditemukan dengan mudah, mulai dari penjual di pinggir jalan hingga tempat makan dan kafe.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Kerang rebus, misalnya, dahulu dikenal bisa dinikmati dengan harga sekitar Rp13 ribu per piring.
Kerang Tanjung Balai Tembus Pasar Luar Negeri
Popularitas kerang Tanjung Balai ternyata tidak hanya terbatas di pasar lokal. Produk kerang dari daerah ini juga telah dipasarkan ke berbagai negara.
Untuk kebutuhan ekspor, kerang biasanya mengalami proses pengolahan terlebih dahulu. Kerang hasil tangkapan nelayan dikupas dari cangkangnya, kemudian direbus, dikeringkan, dan dikemas sebelum dikirim.
Pasarnya antara lain mencakup sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Produk kerang tersebut bahkan disebut telah dikirim hingga Amerika Serikat.
Salah satu olahan yang memiliki peminat di pasar luar negeri adalah kerang dengan bumbu rendang. Cita rasa khas Indonesia membuat produk tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Tidak hanya dagingnya, cangkang kerang juga memiliki nilai ekonomi. Cangkang dapat diolah menjadi berbagai macam kerajinan dan suvenir.
Cangkang Kerang Disulap Jadi Kerajinan
Cangkang kerang yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai jual.
Beragam kerajinan yang dapat dibuat antara lain bale, tepak adat Melayu, bunga hias, vas bunga, bingkai foto, cermin, kaligrafi, jam dinding, hingga hiasan dinding.
Produk-produk tersebut tidak hanya dijual di dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi cendera mata yang dikirim ke luar negeri.
Hal ini menunjukkan bahwa kerang Tanjung Balai memiliki nilai ekonomi yang cukup luas. Bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai bahan baku industri kerajinan.
Aneka Olahan Kerang yang Menggugah Selera
Kerang di Tanjung Balai biasanya diolah dengan berbagai cara. Beberapa yang populer adalah kerang rebus, gulai asap, dan sate kerang.
Kerang rebus menjadi salah satu sajian sederhana yang banyak diminati. Daging kerang biasanya disantap bersama racikan saus khas yang membuat rasanya semakin nikmat.
Salah satu campuran bumbu yang digunakan adalah nanas parut, kacang giling, serta sejumlah bahan lain. Racikan tersebut memberikan perpaduan rasa gurih, pedas, dan segar.
Kerang yang diolah dengan benar juga memiliki aroma yang tidak terlalu menyengat. Karena itulah, makanan ini bisa dinikmati sebagai camilan maupun lauk.
Sate Kerang Jadi Oleh-Oleh Khas
Jika di daerah lain sate kerang mungkin lebih sering dianggap sebagai makanan sederhana, di Tanjung Balai olahan tersebut justru memiliki nilai lebih.
Sate kerang tidak hanya disantap langsung, tetapi juga dikembangkan sebagai oleh-oleh yang dapat dibawa pulang atau dikirim ke berbagai daerah.
Proses pembuatannya dimulai dengan membersihkan kerang yang masih hidup dan bercangkang. Kerang kemudian dimasak dalam wajan tanpa tambahan air.
Setelah matang, daging dikeluarkan dari cangkang dan dicuci berkali-kali untuk menghilangkan pasir serta kotoran yang masih menempel.
Daging kerang kemudian dimasak bersama berbagai bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, cabai kering tumbuk, kemiri, kelapa sangrai, dan asam jawa.
Perpaduan rempah tersebut menghasilkan cita rasa yang kuat dan membuat sate kerang memiliki karakter tersendiri.
Kerang Juga Mengandung Beragam Nutrisi
Selain lezat, kerang juga dikenal sebagai salah satu sumber pangan laut yang mengandung berbagai nutrisi.
Dalam 100 gram kerang terdapat protein dengan asam amino yang relatif mudah dicerna. Kerang juga mengandung asam lemak omega-3 rantai panjang, meskipun jumlahnya tidak setinggi beberapa jenis ikan seperti salmon, tuna, dan makerel.
Kerang juga menyediakan sejumlah mineral penting, termasuk kalsium, zinc, dan zat besi. Kandungan protein di dalamnya berperan dalam pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan tubuh.
Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membantu produksi sel darah merah, sedangkan vitamin B berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk mendukung kesehatan sistem saraf.
Menikmati Kerang Sekaligus Mengenal Identitas Tanjung Balai
Kerang bagi masyarakat Tanjung Balai bukan sekadar makanan laut. Komoditas ini telah menjadi bagian dari identitas kota, sumber penghasilan masyarakat, bahan kuliner, hingga produk kerajinan.
Dari kerang rebus yang dijajakan sederhana di pinggir jalan hingga produk olahan dan kerajinan yang dikirim ke luar negeri, komoditas ini menunjukkan bagaimana kekayaan lokal dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, jika berkunjung ke Tanjung Balai Asahan, mencicipi kerang khas daerah tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk mengenal lebih dekat budaya dan kehidupan masyarakat pesisir Sumatera Utara.

















