Dari Limbah Sisik Ikan Nila, Mahasiswa UMY Ciptakan Terobosan untuk Luka Diabetes
Yogyakarta – Sisik ikan nila yang selama ini kerap dibuang begitu saja sebagai limbah perikanan, kini disulap menjadi bahan riset biomedis oleh sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Melalui tim yang mereka namai COLLANILA, sisik ikan nila (Oreochromis niloticus) diolah menjadi peptida kolagen yang kemudian diformulasikan sebagai nanohidrogel untuk membantu penyembuhan ulkus diabetikus.
Tim ini terdiri dari Iyyaka Kautshar Pinta Rizka sebagai ketua, didampingi Clarissa Rafeyfa Zahirah, Zata Lini F, Karima Alya Maheswari, dan Baiq Lala Eka Anansi Aisyah Purya S, dengan pendampingan dari Dr. dr. Titiek Hidayati, M.Kes., Sp.DLP, Sp.KKLP., FISCM., FISPH.. Proyek riset bertajuk “Nanohidrogel Peptida Kolagen Sisik Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebagai Modulator TGF-β1 pada Ulkus Diabetikus” ini berhasil didanai melalui skema PKM Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Ide riset ini bermula dari keresahan tim melihat besarnya potensi limbah perikanan di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal, di tengah kebutuhan mendesak akan alternatif terapi ulkus diabetikus yang lebih terjangkau dan berbasis bahan lokal.
“Indonesia merupakan salah satu penghasil ikan nila terbesar, dan sisiknya selama ini nyaris tidak bernilai ekonomis. Kami melihat ini sebagai peluang sekaligus tantangan ilmiah untuk mengubah limbah menjadi solusi kesehatan,” jelas Iyyaka Kautshar Pinta Rizka.
Secara metodologis, tim menjalankan proses riset bertahap: dimulai dari ekstraksi kolagen dari sisik ikan nila, dilanjutkan dengan pengujian in vitro untuk melihat respons sel, uji in vivo pada hewan model untuk mengamati proses penyembuhan luka secara langsung, serta pendekatan in silico guna memodelkan interaksi molekuler peptida kolagen dengan protein TGF-β1 sebagai target modulasi.
TGF-β1 sendiri dipilih sebagai target karena perannya yang krusial dalam mengatur proliferasi sel, angiogenesis, dan remodeling jaringan pada proses penyembuhan luka kronis seperti ulkus diabetikus.
Menurut Dr. dr. Titiek Hidayati, M.Kes., Sp.DLP, Sp.KKLP., FISCM., FISPH., riset semacam ini penting untuk terus didorong karena memadukan sisi keilmuan kedokteran dengan pemanfaatan sumber daya alam lokal secara berkelanjutan. “Ini contoh nyata bagaimana mahasiswa bisa berkontribusi pada solusi kesehatan sekaligus mendukung ekonomi sirkular berbasis limbah perikanan,” katanya.
Ke depan, tim COLLANILA berharap hasil risetnya dapat menjadi fondasi pengembangan produk terapi luka berbasis kolagen ikan nila yang dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
###
Narahubung: Iyyaka Kautshar Pinta Rizka (Ketua Tim COLLANILA, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY))








